Menyelisik Tingkat Taanni Asatidzah Kibar: Ustadz Usamah Mahri
Telah diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dengan sanadnya dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat al-Asyaj Abdul Qais,
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ ؛ الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua karakter yang disukai oleh Allah yaitu al-Hilmu dan al-Anah” (HR. Muslim)
al-Hilmu adalah cara berpikir yang jernih dalam memandang efek yang akan muncul dengan menimbang secara seksama antara maslahat dan mafsadah.
al-Anah atau disebut juga at-Taanni adalah kehati-hatian dan tidak terburu-buru dalam bersikap.
Pada pembahasan kali ini, kami terpaksa membahas tingkat taanni asatidzah kibar pada fitnah yang terjadi belakangan ini, karena sangat berkaitan erat dengan berbagai dampak negatif yang muncul di tengah-tengah salafiyin dan kancah dakwah salafiyah di Indonesia.
Berikut ini sekelumit gambaran tentang beberapa ustadz kibar dengan tingkat taanni yang memprihatinkan:
A. Ustadz Usamah Mahri Antara Taanni Dan ‘Ajalah
Sikap ‘ajalah (terburu-buru) atau tidak ta’anni dan tidak mau bertatsabbut ternyata tidak hanya menimpa Ustadz Afifuddin saja pada fitnah kali ini. Bahkan, hal ini pun menimpa beberapa asatidzah yang selama ini dianggap kibar. Diantaranya adalah apa yang terjadi pada Ustadz Usamah Mahri dalam sebuah percakapan telepon antara beliau dengan salah seorang pengajar.
Percakapan tersebut terjadi pada tanggal 20 September 2020, atau jauh-jauh hari sebelum terjadinya percakapan telepon abu Abdirrahman Luwih yang diblow up secara besar-besaran oleh channel fitnah jursela dan diikuti oleh sejumlah Asatidzah.
Berikut ini kutipan dari pernyataan Ustadz Usamah Mahri dalam percakapan telepon tersebut:
…………..
Di sisi lain mungkin tambahan, di surat rujuk yang antum tanyakan dicantumkan nama Ustadz Ruwaifi’. Ruwaifi’ masuk di situ. Lha ikhwan yang tim editor atau yang selama ini kerja, itu kan mereka tahu dan ngerti. Akhirnya terpancing untuk mbales mengeluarkan bayan juga.
Mereka sebutkan, “Kami, tim Jendi, dari awal berdirinya, di tengah perjalanan, dalam rapat-rapat, dalam diskusi, dalam editing tulisan, pokoknya min sampai ila, itu nggak pernah sama sekali sebut nama Ustadz Ruwaifi’. Ya nggak ada sangkut-pautnya sama sekali di media ini. Yang ada ya nama Ustadz Luqman sama Ustadz Alfian. Lah kenapa kok ada nama ini, kok tiba-tiba muncul di surat rujuk itu?”
Ya begitu yang terjadi.
Jadi CARUT-MARUT DAKWAH INI, nggak karuan.
…………….
-Selesai kutipan-
Demikian pernyataan Ustadz Usamah Mahri yang ternyata senada dengan Ustadz Afifuddin dan senada pula dengan yang disebarkan chanel jursela dan jejak fitnah. Pernyataan yang mengandung tuduhan zalim terhadap Ustadz Luqman dan Ustadz Alfian selaku pembimbing Jendi ini, mempunyai andil besar dalam merusak persatuan salafiyin di Indonesia.
Semoga Ustadz Usamah dan Ustadz Afifuddin masih ingat baik-baik ayat Allah,
{ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَیۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمࣱ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَیِّنࣰا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِیمࣱ }
“(Ingatlah) ketika kalian menerima (berita bohong) itu dari muluṭ ke muluṭ dan kalian katakan dengan muluṭ kalian apa yang kalian tidak miliki ilmu sedikit pun tentangnya, dan kalian menganggap remeh persoalan tersebut padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.”
[An-Nur: 15]
Sungguh sikap terburu-buru atau tidak mau ta’anni benar-benar telah menyeret banyak pihak kepada kerusakan-kerusakan yang sangat berbahaya. Sikap tersebut membuat pelakunya enggan untuk bertatsabbut yang akhirnya melahirkan tuduhan-tuduhan dusta.
Berikut audio bukti tuduhan Ustadz Usamah yang senada dengan channel fitnah:

Konsekuensi Pernyataan Ustadz Usamah Mahri
Ketika Ustadz Usamah Mahri terburu-buru, tidak bertaanni, dan bahkan tidak mau bertatsabbut, maka pernyataan beliau tersebut memiliki beberapa konsekuensi, antara lain:
- Pernyataan yang disampaikan oleh Ustadz Usamah Mahri tersebut ternyata bersumber dari sebagian eks Tim Jendi, dan bukan berdasarkan penelitian dan upaya tatsabbut dari beliau sendiri. Hal ini pun menjadi pertanda kuat bahwa sebagian eks Tim Jendi tersebut adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan berposisi sebagai rujukan di sisi beliau dalam permasalahan dakwah.
- Ustadz Usamah Mahri terbawa oleh permainan sebagian eks Tim Jendi tersebut dalam klaim mereka bahwa Ustadz Ruwaifi’ tidak terlibat pada situs Jendi. Bahkan Ustadz Usamah Mahri menilainya sebagai informasi penting yang harus disampaikan kepada beberapa pihak sebagai bentuk pelurusan agar dakwah ini tidak carut marut dan tidak karuan.
- Menuduh dakwah menjadi carut marut dan tidak karuan karena membawa-bawa nama Ustadz Ruwaifi’ pada surat rujuk tersebut.
Maka kami mengatakan kepada Ustadz Usamah Mahri,
هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين
Tunjukkan kepada kami bukti-bukti (hujjah-hujjah) kalian jika kalian benar-benar orang-orang yang jujur!
Pertanyaan Menunggu Jawaban Dari Ustadz Usamah Mahri
Islam sebagai agama yang sempurna sangat menjunjung tinggi keadilan dan sportivitas dalam semua lini kehidupan, walau terhadap seorang kafir dan musyrik. Sangat diharamkan seorang bersikap, berkata dan bersaksi karena dorongan kebencian atau unsur sakit hati semata. Allah berfirman,
{ ۞ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّ مِینَ بِٱلۡقِسۡطِ شُهَدَاۤءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰۤ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَ لِدَیۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِینَۚ إِن یَكُنۡ غَنِیًّا أَوۡ فَقِیرࣰا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلۡهَوَىٰۤ أَن تَعۡدِلُوا۟ۚ وَإِن تَلۡوُۥۤا۟ أَوۡ تُعۡرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیرࣰا }
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun (persaksian tersebut memberatkan) diri kalian sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kalian kerjakan.” (Surat An-Nisa’: 135)
Setelah kita mengetahui peran Ustadz Usamah Mahri dalam mengobarkan fitnah perpecahan dan permusuhan terhadap Ma’had Minhajul Atsar beserta Asatidzahnya yang menimbulkan kerusakan bagi ukhuwah salafiyin secara nasional, maka kami mengajukan beberapa pertanyaan penting kepada Ustadz Usamah Mahri berikut ini:
- SIAPAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN TIM JENDI YANG MENJADI NARASUMBER DARI PERNYATAAN ANTUM TERSEBUT?
- TOLONG TUNJUKKAN KEPADA KAMI BUKTI DAN DATA YANG VALID BAHWA USTADZ RUWAIFI’ TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA SAMA SEKALI DI SITUS JENDI INI?!
- APA YANG ANTUM MAKSUDKAN DENGAN DAKWAH YANG CARUT MARUT DAN TIDAK KARUAN ITU, SERTA APA PENYEBABNYA?
- MENGAPA ANTUM TIDAK MAU BERTATSABBUT KEPADA USTADZ RUWAIFI’?
ATAU APAKAH TINGKAT KEPERCAYAAN KEPADA SEBAGIAN EKS TIM JENDI TERSEBUT LEBIH TINGGI DARIPADA KEPADA USTADZ RUWAIFI’, SEHINGGA TIDAK PERLU LAGI BERTATSABBUT KEPADA BELIAU?!
PADAHAL MENELEPON USTADZ RUWAIFI’ UNTUK BERTATSABBUT DALAM PERMASALAHAN INI SANGATLAH MUDAH.
Seraya kami mengingatkan kepada Ustadz Usamah Mahri dan yang lainnya, bahwa tindak tanduk semacam itu hakikatnya cerminan bagi kualitas agama dan akal seseorang, sebagaimana hal ini disebutkan oleh ulama besar masa kini, Syaikh Abdurahman As Sa’dy rahimahullah:
من الغلط الفاحش الخطر قبول قول الناس بعضهم ببعض، ثم يبني عليه السامع حبًّا وبغضًا ومدحًا وذمًا، فكم حصل بهذا الغلط أمور صار عاقبتها الندامة، وكم أشاع الناس عن الناس أمورًا لا حقائق لها بالكلية، أو لها بعض الحقيقة فنميت بالكذب والزور، وخصوصًا من عرفوا بعدم المبالاة بالنقل، أو عرف منهم الهوى، فالواجب على العاقل التثبت والتحرز وعدم التسرع، وبهذا يُعرف دين العبد ورزانته وعقله (الرياض الناضرة والحدائق النيرة الزاهرة ص ٢٣٤)
“Termasuk kekeliruan yang fatal lagi membahayakan adalah (sikap) menerima begitu saja ucapan manusia sebagian mereka terhadap yang lainnya, kemudian orang yang mendengarnya menjadikan ucapan tersebut sebagai dasar untuk mencintai dan membenci serta memuji dan mencela.
Maka berapa banyak terjadi sekian permasalahan yang berujung penyesalan, disebabkan kekeliruan seperti ini. Berapa banyak pula isu-isu yang disebarkan manusia terhadap yang lainnya dalam sekian permasalahan yang tidak ada hakikatnya sama sekali atau permasalahan tersebut memiliki beberapa fakta yang kemudian dikembangkan (menjadi isu) yang dibumbui dengan kebohongan dan kedustaan. Terlebih jika isu ini muncul dari orang-orang yang dikenal serampangan dalam menukil berita atau dikenal sebagai pengekor hawa nafsu.
Maka wajib bagi setiap insan yang berakal untuk senantiasa bertatsabbut dan berhati-hati serta tidak terburu-buru. Dengan inilah dapat diketahui kualitas agama seorang hamba, kematangan sikapnya dan kejernihan akalnya.”
(Ar Riyadhun Nadhirah wal Hadaiqun Nayyiratuz Zahirah hlm. 234)