Serba-serbi

Bedakan Antara Cercaan dengan Kritikan Ilmiah dan Nasihat

Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencerca.

لَا يَكُونُ المُؤْمِنُ لَعَّانًا

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencerca” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Mencerca, mencaci, mengumbar aib adalah pembunuhan karakter. Tujuannya untuk menjelek-jelekkan person tertentu. Hal ini didasari oleh kebencian pribadi. Di dalamnya terdapat kedzhaliman.

Cercaan atau penghinaan yang dilakukan secara terang-terangan ataupun tersembunyi, baik dengan perbuatan ataupun ucapan, adalah dosa besar yang diancam dalam al-Quran:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

“Celaka bagi setiap humazah lumazah (para pencerca dengan sikap ataupun ucapan)”(al-Humazah: 1)

Bahkan, jika cercaan itu sekedar tuduhan tanpa bukti kepada orang yang beriman, terdapat ancaman khusus dalam al-Quran:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (al-Ahzab: 58)

Berbeda halnya dengan kritikan ilmiah yang berupa nasihat. Meskipun kadang pedas dan membuat seseorang “tertampar”, namun bukan bermaksud menjelek-jelekkan personnya. Muatannya adalah kasih sayang dengan semangat menyadarkan, ikhlas mengharapkan Wajah ar-Rahmaan, tulus berharap kebaikan. Meluruskan penyimpangan dan kekeliruan. Disertai bukti, hujjah, dan dalil.

Kadang kritikan ilmiah dalam bentuk tulisan atau ceramah yang tersebar adalah merupakan jalan terakhir. Karena upaya diskusi tertutup tak menemukan jalan bersambut. Semangat awalnya adalah penyampaian nasihat, tanpa diketahui pihak lain. Akan tetapi, ketika berbagai ajakan untuk ketemu, berdiskusi, bermajelis dalam suasana persaudaraan selalu terhambat dan tidak dipedulikan, adakalanya kritikan ilmiah itu haruslah disampaikan secara luas. Apalagi ketika dampak buruk dari kesalahan itu semakin meluas dan terjadi pembiaran.

Kritikan ilmiah yang berupa nasihat sasarannya bisa saja orang yang sudah menyimpang ataupun seorang yang masih ahlussunnah. Karena nasihat sasarannya adalah untuk semua pihak kaum muslimin.

Sahabat Nabi, Jarir bin Abdillah radhiyallahu anhu menyatakan:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاشْتَرَطَ عَلَيَّ: وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau menyampaikan persyaratan kepadaku: agar aku menasihati setiap muslim” (HR. al-Bukhari)

Syaikh al-Mujahid Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menulis sebuah risalah kecil berjudul an-Naqdu Manhajun Syar’i (Kritikan adalah Manhaj yang Syar’i). Tulisan beliau itu adalah merupakan ta’liq (catatan ringkas) terhadap kitab karya Ibnu Rojab berjudul al-Farqu Bainan Nashiihah wat Ta’yiir (Perbedaan Antara Nasihat dan Cercaan).

Setelah menyebutkan dalil pujian Allah kepada umat ini sebagai umat terbaik karena menerapkan amar ma’ruf nahi munkar dan beriman secara benarpada Surat Ali Imran ayat 110, Syaikh Rabi’ hafizhahullah menyatakan:

فمن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر : نقد الأخطاء وبيانها وتوضيحها للناس وهذا من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وتثبيت الناس على دين

“Di antara bentuk amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemunkaran) adalah kritikan terhadap kesalahan-kesalahan, serta penjelasannya kepada manusia. Ini adalah bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan upaya mengokohkan manusia di atas agama (Allah).” (an-Naqdu Manhajun Syar’i halaman 3)

Disampaikan pula oleh beliau pentingnya untuk membedakan antara ghibah yang terlarang yang juga berupa adudomba, dengan nasihat, penjelasan, dan kritikan (ilmiah) yang justru merupakan upaya penjagaan terhadap agama ini.

ولا بد من التمييز بين الغيبة المحرمة وبين النميمة – والعياذ بالله – وبين النصيحة والبيان الذي كلف الله به هذه الأمة وجعل من هذه النصيحة ومن هذا النقد سياجا يحفظ هذا الدين ويحقق فيه وعد الله تبارك وتعالى بحفظ هذا الدين : إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر :9)

“Harus dibedakan antara ghibah yang haram, adudomba – semoga Allah melindungi kita dari hal itu – dengan nasihat, penjelasan, dan tanggungjawab yang dibebankan Allah kepada umat ini berupa nasihat dan kritikan yang merupakan pagar pelindung terhadap agama ini, agar tercapai pelaksanaan janji Allah Tabaraka Wa Ta’ala dalam menjaga agama ini (sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya): Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan adz-Dzikr (alQuran dan sunnah), dan Kami lah yang akan menjaganya (al-Hijr ayat 9).” (an-Naqdu Manhajun Syar’i halaman 4)

Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling bertakwa dan paling takut kepada kepada Allah namun beliau adalah manusia yang paling benar dalam menyampaikan nasihat. Beliau tidak pernah berbicara (menjelek-jelekkan) orang lain, menggunjing, dan mencerca, namun jika tiba masanya, beliau menjelaskan dan menyampaikan nasihat. (Disarikan dari an-Naqdu Manhajun Syar’i halaman 4).

Allah Ta’ala juga mempublikasikan kritikan dan teguran, sekalipun kepada orang-orang mulia yaitu Nabi dan para Sahabat sebagaimana yang terdapat dalam al-Quran pada surat al-Anfaal ayat 68. Masih banyak contoh-contoh lainnya dalam ayat-ayat al-Quran demikian juga dalam hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ayat-ayat al-Quran ada yang berisi kritikan terhadap orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan juga para Sahabat Nabi. (Disarikan dari an-Naqdu Manhajun Syar’i halaman 8).

Bahkan, di awal risalah, Syaikh Robi’ mengingatkan kita bahwa sekalipun orang shalih, tidak luput dari bersikap berdasarkan hawa nafsu yang membuatnya melakukan kesalahan. Sehingga perlu ada nasihat dan kritikan tersebut.

ما أكثر أخطاء الناس وما أكثر ما يقع الناس في الأخطاء وما أكثر ما يقع الناس في الضلال يقودهم الهوى – والعياذ بالله – حتى بعض الصالحين يقوده هواه – أحيانا – يغلب عليه الهوى فيقع في أخطاء والقول على الله بغير علم

“Begitu banyak kesalahan yang dilakukan manusia. Betapa banyak manusia yang terjatuh dalam kesalahan. Betapa banyak manusia yang terjatuh dalam kesesatan. Mereka terseret hawa nafsunya –semoga Allah melindungi kita dari hal itu-. Bahkan sebagian orang shalih terseret oleh hawa nafsunya, kadang-kadang hawa nafsu telah menguasai dirinya sehingga ia terjatuh dalam kesalahan dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu.” (an-Naqdu Manhajun Syar’i halaman 3)

Semoga Allah Ta’ala menjaga tulisan-tulisan kami agar tidak menjadi tulisan yang berupa cercaan yang tercela. Kalaupun berisi kritikan, namun itu adalah kritikan yang ilmiah sebagai bentuk nasihat kepada segenap kaum muslimin.

➖➖➖➖➖
✅ Channel telegram Meluruskan Tuduhan

🔗 https://t.me/meluruskantuduhan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button